Hari Sabtu pagi saya dapet sms dari Mama, beliau ngabarin kalo di rumah semalem abis kemasukan air, dan kali ini lebih parah lagi. Lebih parah ? Ya, rumah saya juga perna kemasukan air pas banjir besar taon 2002. Waktu itu air di dalam rumah masuk sampe setinggi mata kaki, sedangkan di luar berjarak sekitar 10 meter di depan rumah yang mana topologinya memang lebih rendah, air sudah mencapai pinggang orang dewasa.
Saya masih ingat betul kejadiannya, waktu itu saya masih kelas 2 SMP. Beberapa hari sebelum banjir hujan memang turun dengan deras, sehingga hampir mengakibatkan sungai dalam kota meluap. Untungnya hujan berhenti sehingga sungai tidak jadi meluap. Saat hari datangnya banjir itu juga sama keadaannya, hujan turun sepanjang hari, hanya berhenti sebentar pada jam 3 sore lalu lanjut hujan lagi pada jam 6 petang.
Rumah saya adalah lingkungan perumahan yang mana bagian ujung selatan lebih tinggi daripada utara, dan di belakang rumah adalah sebuah sungai mati yang hanya ada airnya saat hujan tiba. Sore itu kali di belakang rumah sudah hampir meluap, warga pun mulai siap-siap. Malamnya sekitar jam 8 ada kabar kalo Dam dari sungai Sampean udah jebol, keadaan pun makin mencekam. Just info, kalo Dam tersebut uda jebol berarti tinggal satu lagi pertahanan kota, yaitu Dam Pintu Lima. Kalo Dam Pintu Lima jebol maka habislah kota Situbondo.
Sekitar jam 11an ada kabar kalo Dam Pintu Lima uda jebol. Orang seperumahan pada rame semua, semuanya keluar berjaga-jaga seandainya banjir dateng tiba-tiba. Dan bener, sekitar jam setenga 12 air mulai masuk ke rumah paling ujung utara, rumah saya persis di sebelah rumah ini ! Jadilah kami mulai siap-siap seandainya air masuk, semua perabotan, tipi, berkas-berkas penting dan barang berharga lainnya dipindah ke lantai dua. Sekitar satu jam kemudian air mulai masuk ke rumah saya, dari depan dan belakang rumah serta dari lubang pembuangan. Kami hanya bisa pasrah melihat air masuk dengan derasnya.
Sekitar jam 3 pagi banjir mulai surut. Paginya saya, adik dan teman-teman bekeliling melihat keadaan kota. Apa yang kami lihat sungguh mencengangkan, tumpukan sampah dan batang pohon berserakan di pinggir jalan, lumpur setinggi 30 senti menutupi hampir seluruh jalan, beberapa jalan protokol masih tampak tergenang air, pagar-pagar banyak yang roboh.
Kemudian kami berjalan menuju jembatan yang menuju arah Bondowoso, apa yang tadinya kami lihat sebagai sosok jembatan saat ini sudah raib. Bangunan jembatan itu sudah hilang terbawa arus air, sungai yang tadinya kecil berubah menjadi lebar dengan arus deras yang mengerikan. Di bantaran sungai terlihat bekas-bekas bangunan yang hanyut terbawa air, ada juga beberapa bangkai sapi, kambing dan ayam yang terlihat hanyut bersama air. Entah berapa banyak hewan ternak yang mati akibat banjir ini.
Dari cerita-cerita orang, kami mendengar bahwa di muara sungai Sampean banyak ditemukan kendaraan bermotor serta perkakas rumah tangga seperti kulkas dan tipi yang hanyut oleh air. Beberapa bagian jembatan yang dilewati sungai Sampean menjadi rusak parah.
Selama beberapa hari aktivitas di kota benar-benar lumpuh, perkantoran ngga ada yang buka, sekolah diliburkan, seandainya masuk pun mungkin untuk membersihkan sisa-sisa lumpur yang masuk. Di pasar hanya ada beberapa yang berjualan. Jalur transportasi pun lumpuh total, jembatan putus di daerah Pasir Putih sehingga akses ke bagian barat Situbondo terputus, begitu juga dengan jembatan ke arah Banyuwangi dan Bondowoso. Kota Situbondo benar-benar terisolasi.
Sekitar seminggu kemudian barulah Situbondo baru benar-benar bisa pulih, walopun di jalan masih ada beberapa tumpukan sampah bekas banjir yang belum diangkut, serta gundukan lumpur kering yang berdebu. Jalur tansportasi pun sudah mulai berjalan, walopun harus menggunakan jembatan darurat. Secara total kondisi di Situbondo sudah mulai berangsur membaik.
Sebenarnya banjir ini merupakan banjir kiriman dari Bondowoso, karena secara topologi Situbondo terletak di bawah Bondowoso. Jadi walopun di Situbondo tidak hujan, tapi di Bondowoso hujan deras, tetep aja kita pasti kena banjir juga. Keadaan ini diperparah dengan penggundulan hutan di gunung yang mengelilingi Situbondo, dan beberapa bukit di sepanjang aliran sungai Sampean.
Apakah banjir kali ini juga akan sama banjir dengan taon 2002 ? Mengingat kondisinya pun sama persis. Eniwei, saya mohon doanya semoga kota saya tidak kebanjiran lagi. Terima kasih.
Katanya...